KabarLingkungan.com – Masalah pakaian yang sulit kering dan berbau apek menjadi tantangan rutin bagi banyak rumah tangga di Indonesia saat memasuki awal tahun. Berdasarkan Analisis Dinamika Atmosfer dari BMKG, bulan Januari 2026 merupakan periode dengan tingkat kelembapan udara yang sangat tinggi akibat frekuensi hujan yang meningkat. Kelembapan yang melebihi ambang batas normal ini memicu pertumbuhan bakteri Moraxella osloensis pada serat kain yang lembap, yang menjadi penyebab utama aroma tidak sedap meskipun pakaian sudah dicuci menggunakan pewangi.
Mengelola proses pencucian secara lebih strategis menjadi kunci agar pakaian tetap segar dan higienis tanpa harus bergantung sepenuhnya pada sinar matahari langsung.
Optimasi Proses Pencucian dan Takaran Deterjen
Langkah awal untuk mencegah bau apek dimulai sejak pakaian berada di dalam mesin cuci. Sangat disarankan untuk tidak menumpuk pakaian kotor terlalu lama di dalam keranjang dalam kondisi lembap, karena hal ini mempercepat pertumbuhan jamur. Penggunaan deterjen cair lebih direkomendasikan dibandingkan bubuk karena lebih mudah larut dan tidak meninggalkan residu pada serat kain saat suhu air cenderung dingin. Pastikan untuk mengikuti takaran yang tertera pada kemasan; penggunaan deterjen berlebih justru dapat memerangkap kotoran di serat kain jika proses pembilasan tidak sempurna.
Pemanfaatan Bahan Alami sebagai Penghilang Bau
Jika pakaian sudah terlanjur memiliki aroma tidak sedap sebelum dicuci, penggunaan bahan alami seperti cuka putih atau soda kue dapat menjadi solusi tambahan. Menambahkan setengah cangkir cuka putih pada bilasan terakhir berfungsi sebagai disinfektan alami yang membunuh bakteri penyebab bau. Selain itu, menurut panduan Direktorat Jenderal PSLB3 KLHK mengenai penggunaan bahan kimia rumah tangga, meminimalkan penggunaan pelembut pakaian sintetis yang terlalu pekat juga membantu pori-pori kain tetap terbuka, sehingga sirkulasi udara saat penjemuran menjadi lebih lancar.
Teknik Jemur dalam Ruangan dengan Sirkulasi Udara Maksimal
Saat sinar matahari tidak tersedia, penjemuran di dalam ruangan harus dilakukan dengan teknik yang tepat. Hindari menumpuk pakaian secara rapat; berikan jarak minimal 10-15 cm antar gantungan agar udara dapat mengalir bebas di sela-sela kain. Meletakkan jemuran di dekat jendela atau di area yang memiliki sirkulasi udara menyilang (cross ventilation) sangat membantu mempercepat penguapan air. Jika memungkinkan, penggunaan kipas angin dengan putaran rendah dapat membantu menggerakkan udara statis di sekitar pakaian lembap, sehingga proses pengeringan menjadi lebih cepat dan risiko bakteri berkembang biak dapat ditekan.
Perawatan Segera Setelah Pakaian Kering
Kesalahan umum yang sering terjadi adalah langsung menyetrika pakaian yang masih terasa sedikit lembap (damp). Suhu panas dari setrika yang mengenai kain lembap justru akan mengunci bakteri di dalam serat dan menimbulkan bau apek permanen. Pastikan pakaian benar-benar kering secara alami sebelum masuk ke tahap penyetrikaan. Setelah kering, penggunaan bola-bola kayu cedar atau kantong berisi kopi kering di dalam lemari dapat membantu menyerap kelembapan sisa dan menjaga aroma pakaian tetap segar selama musim hujan berlangsung.
Penerapan pola mencuci yang benar tidak hanya bicara soal aroma, tetapi juga tentang menjaga kesehatan kulit dari iritasi akibat jamur atau bakteri yang tertinggal di kain. Dengan menyesuaikan metode perawatan pakaian sesuai dengan kondisi cuaca saat ini, kebersihan dan kenyamanan anggota keluarga tetap terjaga meski intensitas hujan sedang mencapai puncaknya.***












