Catat Tanggalnya! Fenomena Langit Spektakuler Temani Ramadan 2026

Ilustrasi - Fenomena langit Ramadan 2026 menghadirkan parade enam planet, gerhana bulan total, hujan meteor Gamma Normid, konjungsi planet, hingga ekuinoks Maret yang dapat diamati sepanjang 19 Februari–20 Maret 2026. (Pixabay/musgrove)

KabarLingkungan.com – Ramadan 2026 tak hanya menjadi momentum ibadah bagi umat Islam, tetapi juga menghadirkan rangkaian fenomena astronomi yang memukau. Sejak 19 Februari hingga 20 Maret 2026, langit malam diprediksi dipenuhi berbagai peristiwa langit, mulai dari susunan planet sejajar, parade enam planet, gerhana bulan total, hujan meteor, hingga ekuinoks Maret.

Sebagaimana diketahui, umat Islam mulai menjalankan ibadah puasa pada Kamis (19/2/2026), meskipun sebagian telah memulainya pada Rabu (18/2/2026). Sepanjang periode tersebut, langit malam menghadirkan pertunjukan kosmik yang dapat disaksikan dengan mata telanjang maupun bantuan alat optik sederhana.

Planet Berjajar pada 20 Februari 2026

Pada 20 Februari 2026, langit barat setelah matahari terbenam menyuguhkan pemandangan langka berupa susunan vertikal beberapa planet. Pengamatan dapat dilakukan sekitar pukul 18.00 waktu setempat dengan mengarahkan pandangan ke barat.

Dalam susunan tersebut, tampak Venus, Merkurius, Saturnus, dan Bulan membentuk garis vertikal. Venus menjadi objek paling mencolok karena cahayanya paling terang saat senja, sehingga mudah dikenali sebagai titik cahaya dominan di langit barat.

Parade Enam Planet pada 28 Februari 2026

Menjelang akhir Februari, tepatnya 28 Februari 2026, fenomena parade planet akan terjadi. Parade planet merupakan peristiwa ketika sejumlah planet tampak berderet dalam satu bentang langit jika diamati dari Bumi.

Enam planet yang terlibat meliputi Merkurius, Venus, Saturnus, Jupiter, Uranus, dan Neptunus. Merkurius, Venus, dan Saturnus terlihat relatif berdekatan di langit barat hingga selatan. Jupiter menjadi objek paling terang di langit malam. Sementara Uranus dan Neptunus berada dalam konfigurasi serupa, namun membutuhkan teleskop karena cahayanya lebih redup.

Fenomena ini terjadi akibat perbedaan periode orbit setiap planet, sehingga pada waktu tertentu tampak seolah-olah berjajar dalam satu bidang pandang dari Bumi.

Bulan Purnama “Worm Moon” dan Gerhana Bulan Total – 3 Maret 2026

Pada 3 Maret 2026, Bulan memasuki fase purnama yang dikenal sebagai “Worm Moon”. Sebutan ini berasal dari Almanak Petani Tua yang memberikan nama khusus untuk setiap purnama sepanjang tahun. Purnama Maret dinamai worm moon karena berkaitan dengan kemunculan kembali cacing tanah di awal musim semi ketika tanah mulai mencair.

Tahun ini, purnama Maret semakin istimewa karena bertepatan dengan gerhana bulan total. Dalam peristiwa ini, Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus sehingga Bulan tertutup sepenuhnya oleh bayangan Bumi.

Saat fase totalitas, Bulan tidak menghilang, melainkan berubah warna menjadi jingga tembaga akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi. Fenomena ini kerap disebut sebagai blood moon, meskipun secara ilmiah warna yang terlihat lebih menyerupai tembaga dibanding merah darah pekat.

Gerhana bulan total ini dapat diamati dari sebagian besar wilayah Amerika Utara, Asia, dan Oseania dengan penyesuaian waktu masing-masing zona. Di Indonesia, gerhana disebut dapat disaksikan sekitar pukul 18.30 WIB. Namun terdapat informasi lain yang menyebutkan bahwa ketika fase gerhana berlangsung, Bulan tidak berada di atas ufuk Indonesia sehingga pengamatannya menjadi sulit.

Konjungsi Planet dan Bulan Sepanjang Maret

Ramadan 2026 juga dihiasi sejumlah fenomena konjungsi, yaitu ketika dua atau lebih objek langit tampak berdekatan dari sudut pandang Bumi.
Beberapa konjungsi yang terjadi antara lain:

  • 7 Maret 2026: Konjungsi Venus dan Neptunus
  • 9 Maret 2026: Konjungsi Venus dan Saturnus
  • 14 Maret 2026: Konjungsi Mars dan Merkurius
  • 17 Maret 2026: Konjungsi Bulan dan Merkurius
  • 18 Maret 2026: Konjungsi Bulan dan Mars

Secara khusus pada 7 dan 8 Maret, Venus dan Saturnus tampak rendah di langit barat sekitar pukul 19.15. Dengan teleskop kecil, cincin Saturnus dapat terlihat hampir sejajar.
Sebagian besar konjungsi ini dapat diamati dengan mata telanjang, meskipun penggunaan teropong atau teleskop akan memberikan detail yang lebih jelas.

Hujan Meteor Gamma Normid – Puncak 14 Maret 2026

Fenomena lain yang turut meramaikan Ramadan 2026 adalah hujan meteor Gamma Normid. Aktivitas hujan meteor ini berlangsung sejak 25 Februari hingga 28 Maret 2026.
Puncaknya diperkirakan terjadi pada 14 Maret 2026. Di Indonesia, hujan meteor ini dapat disaksikan mulai pukul 21.49 hingga 05.34 selama periode aktifnya. Saat puncak, Gamma Normid diprediksi menghasilkan sekitar enam meteor per jam dalam kondisi langit gelap dan cerah.

Waktu terbaik untuk pengamatan adalah sekitar pukul 04.00 WIB pada 15 Maret ketika titik radian berada di atas cakrawala. Fenomena ini dapat dinikmati tanpa teleskop.

Bulan Baru dan Ekuinoks – 18–20 Maret 2026

Pada 18 Maret 2026, Bulan memasuki fase bulan baru sehingga tidak tampak di langit malam. Kondisi ini justru ideal untuk mengamati bintang dan galaksi karena minim cahaya Bulan.

Kemudian pada 19 dan 20 Maret, Bulan sabit kembali terlihat dan tampak berdekatan dengan Venus sekitar pukul 19.15 di langit barat.

Puncak rangkaian fenomena terjadi pada 20 Maret dengan peristiwa ekuinoks. Ekuinoks Maret terjadi pada pukul 16.01 WIB, ketika Matahari melintasi ekuator langit dari belahan selatan menuju utara. Peristiwa ini menyebabkan durasi siang dan malam hampir sama di seluruh dunia. Selain itu, Matahari terbit tepat di timur dan terbenam tepat di barat.

Rangkaian fenomena langit selama Ramadan 2026 menghadirkan pengalaman astronomi yang beragam. Sebagian besar peristiwa tersebut dapat disaksikan langsung tanpa alat bantu khusus, menjadikan langit malam sebagai panggung alam yang terbuka bagi siapa pun yang ingin mengamatinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *